ruang-ruang dimensi
Sabtu, 18 Januari 2014
sepotong kisah yang tak pernah usai
tentang sepotong kisah yang tak pernah usai
hanya itu
entah kapan jadinya
merengkuh,mendayuh
lalu menyapanya
dari angin yang membawa kabarnya
sampai kapan
bila tak ada lagi harapan
atau mungkin jangan lagi berharap
hapuskan asa tak pasti
saat langit dan bumi tak saling mengenal
angkuh,congkak
juga saat hitam putih tak akan menyatu
kisah itu pun tak pernah usai
walau harus kututup paksa
Senin, 15 Juli 2013
Rahasia Langit
Aku tak tahu
Bagaimana mentari memandang sayu dunia
yang kutahu,hanyalah
ia terus mengintip dari balik rona kelam awan-awan
Tersenyum pilu tek pendarkan cahaya
Semburat kelam terpancar dari langit kelabu
Mendung menggantung diruntut hujan
yang tak kunjung datang
Akupun tak tahu
Bagaimana tangan-tangan langit mengurus bumi
yang kutahu,hanyalah
hujan dan kemarau datang silih berganti
Memberikan penghidupan pada makhluk-makhluk bumi
Rahasia langit
Teka-teki sejati
Sirna dan terbit begitu saja
Tanpa salam,sesuka hatinya
Merundung tanya yang entah kapan
kan terjawab
Bagaimana mentari memandang sayu dunia
yang kutahu,hanyalah
ia terus mengintip dari balik rona kelam awan-awan
Tersenyum pilu tek pendarkan cahaya
Semburat kelam terpancar dari langit kelabu
Mendung menggantung diruntut hujan
yang tak kunjung datang
Akupun tak tahu
Bagaimana tangan-tangan langit mengurus bumi
yang kutahu,hanyalah
hujan dan kemarau datang silih berganti
Memberikan penghidupan pada makhluk-makhluk bumi
Rahasia langit
Teka-teki sejati
Sirna dan terbit begitu saja
Tanpa salam,sesuka hatinya
Merundung tanya yang entah kapan
kan terjawab
Selasa, 06 September 2011
Akar Sepenggal Kisah
Ada sepenggal kisah yang berakar dari liburan lalu. Tak lama kemudian tumbuhlah batang dan dedaunan kecil. Lambat laun muncul ranting-ranting baru memenuhi batangnya. Disetiap ranting ada cabang-cabang kecil. Sungguh,ini penggalan kisah yang amat kompeks. Beruntung,namun cukup memebuat pikirannya pun bercabang. Berkelit.
Berawal saat ia menghadiri acara reuni teman-teman ibunya. Ternyata,berada diantara khalayak orang tua membuatnya tak kerasan. Jenuh dan bosan. Berkali-kali jemarinya lincah menari di atas keypad kesayangannya,membuka inbox,membaca,dan terakhir mengirim balasan. Tersenyum. Ia tersenyum setiap kali menerima balasan sms. Hatinya berdegup kencang. Ia tak dapat mengendalikan dirinya. Pikirannya mengembara memikirkan apa yang akan ia lakukan jika iu terjadi. Senagkah?
Namun,tanpa disadarinya kepalanya mengangguk. Bukan jawaban "iya" namun sebuah pernyataan pasti. Sampai,tatkala hari itu tiba.
Pagi-pagi ia sedang berkemas. Satu,dua,tiga. Ia menghitung tas bawaannya. Cukup banyak. Itupun belum ditanbah pelasti-pelastik kecil yang berseliweran mengelilingi tiga tasnya. Tak terhitung sudah berapa kalikah matanya melirik layar ponselnya. Cemas dan berharap. Namun ternyata penantiannya tak sia-sia. Beberapa menit kemudian layar ponselnya menyala.,kedap-kedip. Ponselnya berbunyi. Ada sms masuk. Secepat kilat ia menyambar ponsel itu. Hatinya kembali berdegup kencang. Apalagi,ketika matanya terpaku pada nama pengirim pesan. Ia mengatur napas,mencari posisi duduk yang nyaman. Perlahan,di wajahnya terlukis senyuman.
Ia mulai membaca. Bahkan mengeja satu persatu huruf yang bebaris rapi memenuhi layar ponsel. Terkejut. Ia tak percaya. Bingung apa yang akan dikatakan.apa yang akan ia balas. Terima atau tolak? Ah,pertanyaan itu berkecamuk lagi dalam batinnya. Terjadi sebuah peraduan hati.
Ia mencari-cari celah ketenangan. Takut membayangkan kejadian lain jika ia menerimanya. Namun,ia sudah terlambat. Ia pasti akan menerima itu. Hanya tinggal menunggu waktu. Dan benar saja,ketika matahari semakin merangkak ke ufuk barat seseorang menghampirinya. Buncahlah hatinya. Tak jelas siapa yang menang dalam peraduan hati itu. Hanya saja,yang ia tahu ia harus menjaganya.
Langganan:
Postingan (Atom)